Koperasi ICARE Garut Tawarkan produksi Domba Hidup untuk Dam Ibadah Haji
Garut (4/9) - Koperasi Peternak Cikal Maju (PCM) berada di Kecamatan Pasirwangi merupakan koperasi terakhir yang dilakukan identifikasi fasilitasi dan kolaborasi PIU Jawa Barat oleh Balai Pengelola Hasil Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP Pengelola Hasil). Bapak Aceng selaku Ketua Koperasi menyampaikan bahwa koperasinya sudah dapat menyediakan kebutuhan pasar sebanyak 2.000 ekor domba, dan sistem pengelolaan kawin ternak sedang berjalan dengan mekanisme kawin alami 1:10 ekor jantan:betina. Berikutnya, dari rencana kegiatan dengan UNPAD dari kegiatan CG akan dilakukan sistem perkawinan IB dan dari kegiatan CG IPB akan diperkenalkan suplemen mineral berupa blok dari kulit kentang dan dalam 14 hari sudah terlihat peningkatan bobot badan yang signifikan, jelas Bapak Aceng.
Kegiatan unit bisnis lain dari koperasinya selain menjual domba hidup juga membuat silase untuk mengatasi kurangnya serat kasar dan membuat kompos dari kotoran hewan. Ia menyampaikan bahwa saat ini dari beberapa kegiatan CG yang berjalan salah satunya juga mengenalkan jenis hijauan lainnya dan koperasinya akan menanam di lahan yang disewa untuk anggota koperasinya kelak, jelasnya. Bapak Aceng menginfokan bahwa saat ini koperasinya ingin dapat meraih pasar dari penyerapan dam haji sekitar 20% saja. Secara pelaksanaan, diinformasikan bahwa mekanisme dam haji saat ini bisa dilakukan di tanah air, secara syariat dibolehkan, dan Ia menginginkan agar peluang ini dapat difasilitasi melalui payung MoU dengan Kementan sebagaimana harapannya, tambahnya.
Nuning, Kepala BRMP PH menyampaikan apabila dimungkinkan perlu dihubungkan dengan KemenHaj untuk memastikan mekanismenya terutama di periode permintaan dam haji ini sedang meningkat, jelasnya lagi. Tentunya pelibatan PIU dan Biro Kerja Sama Kementan akan menjadi bagian dari fasilitasi ini. Di akhir, saat melihat ke kandang komunal yang dimiliki Koperasi Peternak, Nuning menyampaikan agar pengolahan bulu domba yang sudah berlangsung juga dapat menjadi bagian upaya sanitasi kandang yang membutuhkan solusi ke depannya. Ia melihat bahwa tempat pengolahan silase, kandang, dan pengolahan mineral blok yang berbeda sudah dilakukan, namun tetap membutuhkan standar pengelolaan yang menjadi satu ekosistem ramah lingkungan, tambahnya lagi.